Pages

Thursday, July 5, 2018

FILSAFAT BEHAVIORISME



FILSAFAT BEHAVIORISME
A.    BEHAVIORISME
Behaviorisme didasarkan pada prinsip bahwa perilaku manusia yang diinginkan merupakan produk desain bukannya kebetulan. Menurut kaum behavioristik, merupakan sebuah ilusi yang mengatakan bahwa manusia memiliki suatu keinginan yang bebas. Sekalipun mungkin kita bertindak seakan-akan kita bebas, perilaku kita benar-benar ditentukan oleh tekanan-tekanan lingkungan yang membentuk perilaku kita. Menurut power (1982: 168), “ kita adalah kita apa adanya dan kita melakukan apa yang kita lakukan, tidak karena suatu kekuatan misterius terhadap kemauan manusia, namun karena tekanan-tekanan luar atas kurangnya kesamaan kontrol yang membuat kita terperangkap dalam suatu jaring yang tidak fleksibel. Apapun kita adanya, kita tidak bisa menjadi kapten dari nasik kita atau penguasa-penguasa jiwa kita.
B.     TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK
Teori Behavioristik merupakan sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Kemudian teori ini berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap pengembangan teori pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
C.    PRINSIP-PRINSIP BEHAVIORISTIK
a)      Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak
b)     Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
c)      Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
d)     Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
e)      Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
f)      Banyak ahli membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.
D.    TOKOH BEHAVIORISTIK
Jhon B. Watson (1978-1958) adalah perintis behavioristik yang utama dan B.F. Skinner (1904-1990) adalah promotor terkenalnya. Jhon B. Watson terlebih dahulu mengklaim bahwa perilaku manusia terdiri dari stimulasi spesifik yang muncul dalam respon-respon tertentu. Sebagaian ia mendasarkan pada konsepsi barunya terhadap pembelajaran pada pengalaman klasik yang dilaksanakan oleh psikologi Rusia Ivan Pavlo (1984-1936). Pavlo telah memperlihatkan bahwa seekor anjing yang diteliti mengeluarkan air liur ketika anjing itu diberi makanan. Dengan memperkenalkan bunyi bell ketika makanan diberikan dan mengulangi hal ini beberapa kali. Pavlo menemukan bahwa suara bell saja (suatu stimulasi yang terkondisikan) dapat membuat anjing mengeluarkan air liur (suatu respon yang terkondisikan). Watson sangat yakin bahwa semua pembelajaran sesuai dengan model stimulasi-respons dasar (saat ini disebut pengkondisian tipe S- stimulasi) sehingga ia pernah berkata “ beri saya selusin bayi yang sehat, berperawakan baik dan dunia yang ditentukan oleh bayi saya sendiri untuk membentuk mereka, dan saya menjamin untuk mengambil salah satunya secara acak dan melatih dia untuk menjadi semacam spesialis yang saya pilih: dokter, pengacara, seniman, kepala pemasaran, bahkan pengemis, pencuri, terlepas dari bakat, kegemaran, kecenderungan, kemampuan, pekerjaan/keterampilan khusus, dan ras dari pendahulunya.”
            Skinner berjalan diluar model stimulus dasar Watson dan mengembangkan suatu pandangan yang lebih komprehensif terhadap pengkondisian yang ditentukan sebagai operant conditioning. Operaran conditioning didasarkan gagasan bahwa respon-respon yang memuaskan itu dikondisikan, respon-respon yang tidak memuaskan tidak dikondisikan. Dengan kata lain, “Hal-hal yang kita katakan menyenangkan memiliki efek yang memberikan kekuatan atau memperkuat perilaku kita”, dengan demikian skinner (Parkay. Et.al, 1998). Bagi guru berarti bahwa perilaku siswa yang diinginkan harus diperkuat, perilaku yang tidak diinginkan tidak boleh diperkuat. Guru harus berhubungan dengan perubahan perilaku siswa bukannya berusaha mengubah keadaan mental mereka.
            Didalam novelnya Walden Two (1962), Skinner (Parkay. Et.al., 1998) menggambarkan bagaimana “perekayasaan perilaku” dapat mengarahkan pada menciptakan masyarakat utopian. Buku tersebut menggambarkan bagaimana suatu masyarakat dengan tatanan sosial yang diinginkan itu diciptakan dengan desain bukannya dengan kebetulan. Dalam cara yang sama, para ahli pendidikan dapat menciptakan pembelajaran yang memperhatikan perilaku-perilaku yang diharapkan dengan mengkontrol proses edukatif secara hati-hati dan ilmiah. Guru hanyalah perlu mengetahui bahwa semua pembelajaran adalah pengkondisian dan mengikuti empat langkah sebagai berikut :
a)      Mengidentifikasi perilaku yang diharapkan dalam bentuk yang konkrit.
b)      Membangun suatu prosedur untuk mencatat perilaku-perilaku spesifik dan menghitung frekuensi perilakunya.
c)      Untuk masing-masing perilaku, identifikasi suatu pemerkuat yang tetap.
d)     Pastikan bahwa siswa menerima reinforcer sesegera mungkin setelah menunjukkan suatu perilaku yang diharapkan.
Aliran behavioristik mengabaikan faktor kehidupan intrapsikis, yang berarti bahwa pendidikan pun tidak berorientasi kepada tujuan-tujuan yang bersumber dari diri siswa. Tujuan pendidikan bersifat eksternal, artinya ditentukan dan dirumuskan oleh lingkungan. Siswa dianggap tidak perlu melakukan pengendalian belajar sendiri.

0 comments:

Post a Comment